Menghindari Sikap Sinis dan Memperkuat Sikap Skeptis dalam Jurnalisme

- Penulis

Selasa, 28 Mei 2024 - 13:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jurnalisme

Media Kompas.com dalam artikel berjudul Jurnalisme: Pengertian dan Tujuannya, 07/02/2023, pada rumusan akhir setelah membeberkan beberapa kutipan, mengartikan Jurnalisme sebagai proses penghimpunan berita, pencarian fakta, dan pelaporan peristiwa kepada publik. Tugas ini melekat dalam diri seorang wartawan.

Menyebut wartawan, pikiran kita segera tertuju pada dunia tulis-menulis (reading, writting) dan dunia liput-meliput (audio-visual).

Kalau kita teliti kecenderungan banyak penulisan media saat ini, kita akan temukan, betapa banyaknya berita hoax, sinis dan fakenews berhasil disebarkan. Mudah saja rasanya untuk menciptakan kebohongan. Sikap sinis lebih banyak dimainkan dari pilihan mencerdaskan publik dengan nilai etiket jurnalistik.

Ada dua kata menarik untuk dibahas yakni sinis dan skeptis.

Yang pertama : Sinis

Sinis berarti memandang rendah. Atau juga bersikap meremehkan. Yang kedua :

Yang kedua : Skeptis

Skeptis berarti meragukan atau tidak percaya.

Terhadap dua kata di atas, dalam kontribusinya dalam dunia jurnalisme, terdapat komentar beberapa pemikir

Yang pertama 

Oscar Wilde (Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde adalah seorang novelis, dramawan, penyair, dan cerpenis asal Irlandia), pernah mengatakan “Sikap skeptis adalah awal dari kepercayaan, sedangkan sikap sinis adalah orang yang tahu mengenai harga (price) tetapi yang sama sekali tidak tahu mengenai nilai (value).

Yang kedua 

Sedangkan menurut Vartan Gregorian dari Brown University, mengatakan bahwa sikap sinis adalah kegagalan manusia yang paling korosif karena menyebar kecurigaan dan ketidakpercayaan, mengecilkan arti harapan dan merendahkan nilai idealism

Yang ketiga 

Henry Louis Mencken adalah seorang jurnalis Amerika, penulis esai, satiris, kritikus budaya, dan sarjana bahasa Inggris Amerika : “ Sikap sinis itu seperti orang, yang ketika mencium keharuman bunga, justru matanya melihat ke sekelilingnya mencari peti mati (A cynic is a man who, when he smells flowers, looks around for a coffin).

Pentingnya Sikap Skeptis

Sikap sinis memperpuruk situasi. Akibatnya, publikasi kehilangan daya  serap. Publik yang merasa disinis, bakal tidak tertarik mengakes informasi. Sementara jurnalisme menekankan ciri publikasi, sikap sinis mengalihkan daya serapa, skeptisnya seorang  wartawan merupakan  daya penyelamat bagi kebenaran publikasi.

Luwi Ishwara, dalam bukunya Jurnalisme Dasar, Seri Jurnalistik Kompas menulis sebuah semboyan bernas, demikian : skeptis itulah ciri khas jurnalisme. Hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat hidup.

Menurut Luwi, sikap skeptis penting. Pentingnya ialah seorang penulis, sebelum menulis, ia perlu meragukan sebuah informasi. Sikap ragu itu menuntunnya untuk mencari, melakukan analisis (investigasi-interogasi) hingga menemukan yang benar. Kebenaran sebagai hasil temuan itulah yang harus dipublikasikan dan dishare sebagai pengetahuan dan kontribusi bagi publik demi merawat kebaikan bersama.

Sambil mempedomani istilah cheerleader complex (cetusan John Hohenberg), Luwi mengatakan bahwa sikap skeptis harus merupakan sikap penting dalam jurnalisme. Sikap skeptis menempatkan si penulis menjadi subjek pengendali dalam mencari dan menemukan substansi informasi. Substansi informasi yang benar membuka peluang bagi inpirasi dan transformasi publik.

Ide penting bagi para wartawan dalam karya jurnalisme, diungkapkan Josep Pulitzer (Jurnalis Hungaria-Amerika). Menurutnya, sebuah surat kabar tidak akan pernah menjadi besar,  dengan hanya sekedar mencetak selebaran-selebaran yang disiarkan oleh pengusaha maupun tokoh-tokoh politik dan meringkas tentang apa yang terjadi setiap hari. Tambahnya lagi, wartawan harus terjun ke lapangan, berjuang dan menggali hal-hal yang ekslusif. Sebab, ketidaktahuan membuka kesempatan korup sedangkan pengungkapan mendorong perubahan.

Apa yang dikatakan Penulis Luwi, sebetulnya merupakan jabaran dari inti cheerleader complex, dimana wartawan dalam karya jurnalisme, lebih cenderung hura-hura mengikuti arus yang sudah ada, puas dengan apa yang ada, puas dengan permukaan sebuah peristiwa, serta enggan mengingatkan kekurangan-kekurangan yang ada dalam masyarakat.

Pentingnya sikap skeptis atau dalam paham filsafat disebut skeptisisme, lama sebelumnya telah dikemukan oleh Filsuf asal Prancis; Rene Descartes dengan istilah dubium metodicum atau dalam bahasa Inggris kita sebut methodicum doubth. Intinya ialah segala sesuatu perlu diragukan bukan untuk diabaikan melainkan untuk diseleksi hingga menemukan kebenarannya.

Pernyataan Descartes memberi kontribusi besar bagi dunia Filsafat. Bahwasannya, segala sesuatu perlu diragukan sebagai pintu masuk untuk mencari hingga menemukan kebenaran. Karena inilah, maka dikatakan bahwa meragukan merupakan sebuah sikap banter memasuki kebijaksanaan.

 

oleh RD. Yudel Neno

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bahasa yang Melukai: Telaah Etis atas Ghibah, Fitnah, Hasut, Celaan, Bully, dan Roasting
Pentingnya Resiliensi Intelektual Teologis dan Progres Iman dalam Karya Pastoral
Makna Hidup di Era Algoritma
Jokowi dan Prabowo : Hubungan Unik dalam Politik Indonesia
Pemikiran Alfred North Whitehead tentang Tuhan dan Kejahatan
Membongkar Irasionalitas Menjelang Suksesi
Kemerdekaan Berpendapat dan Tantangannya dalam Pergeseran Wadah dan Cara
Politik di Persimpangan Konotasi Negatif dan Sangkalannya
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 23:25 WITA

Bertolak dari Persona Docens menuju Persona Discens: Satu Panggilan bagi Para Imam di Tengah Ledakan Informasi Media Sosial

Senin, 30 Maret 2026 - 18:37 WITA

Praeses Cup Lalian Ditutup Meriah, Persaudaraan dan Prestasi Jadi Penegasan

Berita Terbaru