Bertolak dari Persona Docens menuju Persona Discens: Satu Panggilan bagi Para Imam di Tengah Ledakan Informasi Media Sosial

- Penulis

Kamis, 16 April 2026 - 23:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Katekese ImamatLopoNTT.idBertolak dari Persona Docens menuju Persona Discens: Satu Panggilan bagi Para Imam di Tengah Ledakan Informasi Media Sosialoleh Romo Yudel Neno

Ledakan Informasi dan Melemahnya Daya Timbang Manusia

Kita hidup dalam suatu zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk menimbangnya. Apa yang dahulu menuntut proses pencarian, verifikasi, dan pembacaan yang sabar, kini hadir hanya dalam satu sentuhan layar. Media sosial telah mengubah pola menerima pengetahuan. Orang dapat mengakses banyak hal dengan mudah, tetapi pada saat yang sama tidak selalu memiliki ketekunan untuk memeriksa kebenaran, konteks, dan bobot isinya. Akibatnya, ledakan informasi sering berjalan beriringan dengan melemahnya fungsi kritis-selektif. Orang mudah memperoleh informasi, tetapi juga mudah percaya. Orang cepat membaca, tetapi tidak selalu sungguh memahami. Orang cepat membagikan, tetapi tidak selalu sempat menguji.

Persoalan Antropologis, Kultural, dan Pastoral di Era Digital

Fenomena ini bukan sekadar gejala teknologis. Ini adalah persoalan antropologis, kultural, dan pastoral sekaligus. Kita sedang menghadapi suatu ekosistem komunikasi yang cenderung membentuk mentalitas instan. Yang cepat dianggap benar. Yang viral dianggap penting. Yang ramai dianggap bernilai. Yang banyak disukai dianggap meyakinkan. Dalam situasi seperti ini, bukan hanya umat beriman yang ditantang, tetapi juga para imam. Sebab imam hidup dan melayani bukan di luar dunia, melainkan di dalam dunia konkret yang sedang dibentuk oleh arus informasi yang padat, cepat, dan sering kali tidak tertata.

Dari Persona Docens Menuju Persona Discens

Di titik inilah judul refleksi ini menjadi mendesak: bertolak dari persona docens menuju persona discens. Selama ini, imam sering dipahami pertama-tama sebagai persona docens, pribadi yang mengajar. Dan memang benar, salah satu tugas hakiki imam ialah mewartakan, menjelaskan, membimbing, menafsir, dan mengarahkan umat dalam terang Injil dan ajaran Gereja. Imam adalah pengajar iman. Ia dipanggil untuk menyampaikan Sabda, memberi peneguhan, meluruskan kekeliruan, serta membangun kesadaran moral umat. Namun, di tengah ledakan informasi media sosial, identitas sebagai pengajar tidak lagi cukup dipahami hanya dari sisi tugas berbicara. Ia harus lebih dahulu dan terus-menerus ditopang oleh identitas sebagai persona discens, pribadi yang belajar.

Belajar sebagai Dasar Otoritas Mengajar

Di sinilah letak tantangan utama zaman ini. Para imam perlu semakin sadar bahwa belajar bukan pelengkap pelayanan, melainkan dasar otoritas normatif bagi tindakan mengajar. Seorang imam tidak mempunyai kewibawaan mengajar hanya karena ia berdiri di mimbar, mengenakan jubah liturgis, atau memegang jabatan gerejani. Kewibawaan mengajar mendapatkan bobotnya ketika ia ditopang oleh kesungguhan belajar. Tanpa itu, pengajaran akan mudah jatuh menjadi pengulangan verbal yang miskin kedalaman. Kata-kata bisa tetap terdengar fasih, tetapi kehilangan daya hidup. Bahasa bisa terdengar rapi, tetapi tidak menyentuh realitas. Kalimat-kalimat bisa terdengar saleh, tetapi tidak kontekstual dan tidak signifikan.

Bahaya Mengajar Tanpa Belajar

Mengajar tanpa belajar pada akhirnya hanya melahirkan kecakapan verbal yang kaku. Ia mungkin terdengar meyakinkan di permukaan, tetapi rapuh dalam isi. Ia bisa tampak tegas, tetapi sebenarnya miskin penjelasan. Ia bisa terdengar normatif, tetapi tidak sanggup menjembatani teks iman dengan pergumulan konkret manusia modern. Dalam konteks pastoral hari ini, ini adalah bahaya yang serius. Umat tidak hanya membutuhkan imam yang dapat berbicara. Umat membutuhkan imam yang sungguh memahami. Mereka memerlukan gembala yang mampu membedakan antara opini dan kebenaran, antara sensasi dan substansi, antara viralitas dan nilai, antara informasi dan kebijaksanaan.

Persona Discens sebagai Tuntutan Rohani-Intelektual

Karena itu, panggilan menjadi persona discens bukanlah sikap tambahan, melainkan tuntutan rohani-intelektual. Imam harus belajar Kitab Suci dengan lebih tekun, bukan hanya untuk mengutip ayat, tetapi untuk menafsir secara bertanggung jawab. Imam harus belajar teologi dengan sungguh, bukan hanya untuk mempertahankan istilah, tetapi untuk menerangi kehidupan. Imam harus membaca tanda-tanda zaman, memahami perubahan sosial, mengenal cara berpikir generasi digital, peka terhadap bahasa budaya populer, serta cermat melihat bagaimana umat membangun persepsi melalui media sosial. Imam juga perlu belajar dari pengalaman umat sendiri, sebab realitas pastoral tidak pernah selesai hanya dengan teori. Belajar, dalam arti ini, bukan hanya membaca buku, tetapi juga mendengarkan, mengamati, berdialog, dan mengolah kenyataan dalam terang iman.

Krisis Relevansi Pewartaan tanpa Disiplin Belajar

Tanpa kebiasaan belajar yang serius, aspek relevansi dan aplikatif dalam pewartaan akan kehilangan arah. Banyak pengajaran menjadi tidak menyentuh hidup karena tidak dikencangkan lebih dahulu dalam disiplin belajar. Imam bisa berkhotbah tentang keluarga tanpa memahami luka-luka keluarga masa kini. Ia dapat berbicara tentang kaum muda tanpa sungguh mengenal dunia digital yang membentuk mereka. Ia bisa bicara tentang kebenaran, tetapi tidak memiliki kepekaan memadai terhadap cara hoaks, manipulasi emosi, dan polarisasi bekerja di media sosial. Akibatnya, pewartaan iman terdengar jauh dari kehidupan. Ia menjadi benar secara rumusan, tetapi lemah secara penjangkauan. Ia normatif, tetapi tidak operatif. Ia mengulang ajaran, tetapi tidak mengolah makna.

Budaya Percaya Tanpa Proses dan Tugas Imam sebagai Penjernih

Kita harus jujur mengakui bahwa salah satu problem serius dalam ruang digital saat ini ialah lahirnya budaya percaya tanpa proses. Orang tidak lagi pertama-tama bertanya, “Benarkah ini?” tetapi “Apakah ini sesuai dengan perasaan saya?” atau “Apakah ini cocok dengan kelompok saya?” Ketika emosi mengalahkan nalar dan kecepatan mengalahkan ketelitian, ruang publik menjadi mudah dikuasai oleh kepastian-kepastian dangkal. Dalam situasi seperti itu, imam tidak boleh ikut larut menjadi sekadar penghasil suara. Imam dipanggil menjadi penjernih, bukan penambah kebisingan. Namun, tugas menjernihkan tidak mungkin dijalankan tanpa kedalaman belajar. Tidak ada kejernihan tanpa disiplin intelektual. Tidak ada bobot ajaran tanpa kerendahan hati untuk terus belajar.

Belajar sebagai Fondasi Wibawa yang Matang

Maka, pergeseran dari persona docens ke persona discens bukan berarti imam berhenti mengajar. Sebaliknya, itu berarti imam mengajar dengan cara yang lebih bertanggung jawab karena ia lebih dahulu belajar. Belajar di sini bukan ancaman bagi otoritas, melainkan fondasi otoritas. Imam yang belajar tidak kehilangan wibawa. Justru karena ia belajar, wibawanya menjadi matang. Ia tidak berbicara dari kekosongan, tetapi dari pergulatan. Ia tidak mengajar dari kemapanan semu, tetapi dari penghayatan yang terus diperbarui. Ia tidak menjawab semua hal dengan tergesa-gesa, tetapi dengan pertimbangan. Ia tahu kapan harus menegaskan, kapan harus menjelaskan, kapan harus mendengar, dan kapan harus berkata bahwa suatu persoalan perlu dipelajari lebih lanjut. Sikap ini bukan kelemahan, melainkan tanda kedewasaan intelektual dan pastoral.

Tradisi Belajar sebagai Askese dan Kerendahan Hati

Dalam tradisi Gereja, belajar sesungguhnya adalah bagian dari askese. Ia adalah bentuk kerendahan hati. Orang yang belajar mengakui bahwa dirinya belum selesai. Ia tidak merasa cukup hanya karena pernah dididik. Ia sadar bahwa tahbisan bukan akhir pembelajaran, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar untuk terus mendalami. Dunia berubah. Bahasa manusia berubah. Problem etis bertambah kompleks. Pergumulan pastoral semakin beragam. Karena itu, imam yang berhenti belajar sesungguhnya sedang mempersempit daya jangkau pelayanannya sendiri. Ia mungkin tetap menjalankan fungsi ritual, tetapi kehilangan daya dialogal, reflektif, dan transformatif dalam pewartaan.

Melawan Simplifikasi di Era Media Sosial

Kebiasaan belajar juga menjaga imam dari bahaya simplifikasi. Di media sosial, persoalan sering dipersempit menjadi slogan, dipotong menjadi potongan video, dan dihakimi berdasarkan fragmen. Tetapi kehidupan manusia tidak sesederhana itu. Luka batin tidak dapat diobati dengan kalimat singkat yang moralistis. Pergulatan iman tidak selesai dengan nasihat umum yang diulang-ulang. Konflik keluarga, kecemasan generasi muda, perubahan budaya, kemiskinan makna, dan krisis otoritas membutuhkan pendampingan yang lahir dari pemahaman yang lebih dalam. Karena itu, imam harus belajar agar tidak tergoda menyederhanakan persoalan rumit hanya demi terdengar cepat dan tegas.

Belajar demi Umat dan Pelayanan yang Menjangkau Hidup

Lebih jauh, persona discens juga berarti imam belajar bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk umat. Ia belajar agar umat tidak dibiarkan berjalan dalam kebingungan. Ia belajar agar pewartaan memiliki akar intelektual dan daya pastoral. Ia belajar agar yang diajarkan tidak menjadi beban yang abstrak, melainkan jalan yang dapat dipahami dan dijalani. Ia belajar agar sabda yang diwartakan tidak hanya terdengar dari altar, tetapi juga menjumpai umat dalam situasi konkret: di rumah, di sekolah, di ruang digital, di tempat kerja, dan di tengah pergulatan batin mereka.

Penutup: Belajar Lebih Dalam agar Pewartaan Tetap Hidup

Pada akhirnya, ledakan informasi media sosial memang menciptakan tantangan besar, tetapi juga menghadirkan panggilan baru. Panggilan itu bukan pertama-tama agar imam berbicara lebih banyak, melainkan agar imam belajar lebih dalam. Sebab di tengah dunia yang penuh suara, yang dibutuhkan bukan hanya lebih banyak kata, melainkan lebih banyak kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan tidak lahir dari kecepatan berbicara, tetapi dari kesetiaan belajar.

Karena itu, para imam masa kini tidak cukup hanya menjadi persona docens. Mereka harus terlebih dahulu, dan terus-menerus, menjadi persona discens. Dari sanalah pengajaran memperoleh bobotnya. Dari sanalah otoritas menjadi sahih. Dari sanalah relevansi menemukan arahnya. Dan dari sanalah pewartaan Gereja tetap hidup, kontekstual, dan signifikan di tengah dunia yang semakin bising, cepat, dan mudah percaya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pengirisan Tuak dan Penyulingan Sopi: Eksplorasi Aktivitas dan Nilai yang Terkandung dalam Proses Produksi Produk Lokal
Praeses Cup Lalian Ditutup Meriah, Persaudaraan dan Prestasi Jadi Penegasan
Berita ini 74 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 23:25 WITA

Bertolak dari Persona Docens menuju Persona Discens: Satu Panggilan bagi Para Imam di Tengah Ledakan Informasi Media Sosial

Senin, 30 Maret 2026 - 18:37 WITA

Praeses Cup Lalian Ditutup Meriah, Persaudaraan dan Prestasi Jadi Penegasan

Berita Terbaru