Pentingnya Resiliensi Intelektual Teologis dan Progres Iman dalam Karya Pastoral

- Penulis

Senin, 30 Maret 2026 - 14:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan KritisLopoNTT.idPentingnya Resiliensi Intelektual Teologis dan Progres Iman dalam Karya Pastoral (Membaca Ateisme Teoretis dan Ateisme Praktis di Tengah Umat) – oleh Romo Yudel Neno

Di banyak tempat, Gereja hari ini tidak sedang berhadapan pertama-tama dengan umat yang secara terbuka menolak Allah. Tantangan yang justru lebih nyata adalah kenyataan bahwa semakin banyak orang tetap membawa identitas beragama, tetapi hidup tanpa orientasi yang sungguh berpusat pada Allah. Nama Allah masih disebut, perayaan iman masih dijalani, simbol-simbol religius masih dipertahankan, tetapi daya batin iman perlahan menipis. Pada titik inilah karya pastoral tidak cukup hanya mengurus kegiatan, melainkan harus masuk lebih dalam: membentuk ketangguhan intelektual iman dan menuntun pertumbuhan iman yang dewasa.

Kita hidup di zaman ketika iman tidak hanya diuji oleh penolakan terbuka, tetapi juga oleh pengosongan makna secara diam-diam. Ateisme tidak selalu datang dengan wajah perlawanan frontal terhadap agama. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus: cara hidup yang meminggirkan Allah dari keputusan, orientasi moral, dan horizon pengharapan. Inilah yang membuat pastoral masa kini tidak bisa lagi bekerja hanya dengan pola pemeliharaan rutinitas. Pastoral dituntut menjadi ruang pembentukan kesadaran, penjernihan cara berpikir, dan pendalaman relasi umat dengan Allah.

Dalam kerangka itu, penting untuk membedakan dua wajah ateisme yang kini sama-sama bekerja di tengah kehidupan umat. Yang pertama adalah ateisme teoretis, yakni penolakan terhadap Allah pada tingkat pemikiran. Bentuk ini biasanya hadir dalam wacana filosofis, akademik, atau ideologis yang mempersoalkan keberadaan Allah dan memandang iman sebagai sisa masa lampau yang tidak lagi relevan dalam dunia modern. Ateisme jenis ini memang nyata, tetapi dalam praktik pastoral sehari-hari, ia sering kali tidak sebesar yang dibayangkan.

Yang jauh lebih luas justru ateisme praktis. Di sini seseorang mungkin tidak pernah mengatakan bahwa Allah tidak ada. Ia bahkan tetap hadir dalam ritus, masih merasa bagian dari Gereja, dan masih memelihara bahasa-bahasa religius. Namun, pada saat yang sama, hidupnya dijalani seolah-olah Allah tidak sungguh penting. Allah tidak lagi menjadi dasar penilaian, tidak menjadi pusat pengambilan keputusan, tidak menjadi sumber daya tahan moral, dan tidak menjadi tujuan terdalam hidup. Iman lalu berisiko turun derajat: dari relasi eksistensial menjadi sekadar kebiasaan, dari penyerahan diri menjadi formalitas religius.

Karena itu, problem pastoral kita sesungguhnya bukan semata-mata soal berapa banyak umat datang ke gereja, melainkan apakah iman mereka sungguh hidup, berpikir, dan bekerja dalam kenyataan hidup. Dari sini, kebutuhan akan resiliensi intelektual teologis menjadi sangat mendesak. Yang dimaksud bukan sekadar kemampuan berdebat soal agama, melainkan daya tahan iman yang disertai kejernihan berpikir teologis. Umat perlu dibentuk agar sanggup memahami apa yang diimani, mampu menimbang arus pemikiran zaman, dan berani mempertanggungjawabkan harapan imannya dengan wajar, rendah hati, dan masuk akal.

Namun, satu hal harus ditegaskan. Resiliensi intelektual yang dibutuhkan Gereja bukanlah rasionalisasi defensif. Ini penting sebagai catatan kritis. Yang kita perlukan bukan umat yang reaktif, merasa iman selalu terancam, lalu tergesa-gesa membela keyakinannya dengan argumen yang kaku dan tertutup. Rasionalisasi defensif biasanya lahir bukan dari kekuatan iman, melainkan dari rasa takut. Ia mudah menjadikan setiap pertanyaan sebagai ancaman, setiap kritik sebagai serangan, dan setiap dialog sebagai bahaya. Dalam situasi seperti itu, teologi berhenti menjadi upaya memahami iman, lalu berubah menjadi benteng psikologis yang anti-koreksi.

Padahal, iman yang matang tidak takut pada pertanyaan yang jujur. Iman yang sehat tidak membutuhkan kemarahan untuk mempertahankan dirinya. Justru sebaliknya, iman yang dewasa sanggup berdialog tanpa kehilangan identitas, sanggup berpikir tanpa menjadi sinis, dan sanggup mendengar keberatan tanpa merasa runtuh. Maka, resiliensi intelektual teologis harus dipahami sebagai kemampuan untuk tetap teguh tanpa menjadi beku, tetap meyakini tanpa menutup diri, dan tetap berpikir tanpa kehilangan sikap hormat kepada misteri Allah.

Akan tetapi, ketangguhan intelektual saja tidak cukup. Pastoral juga harus memikirkan progres iman, yakni pertumbuhan iman yang sungguh bergerak menuju kedewasaan. Iman bukan barang jadi. Ia bukan keadaan statis yang selesai hanya karena seseorang sudah dibaptis, aktif di gereja, atau terbiasa menjalankan praktik religius. Iman yang sejati selalu menuntut pertumbuhan. Ia harus makin diperdalam, dimurnikan, diperiksa, dan diarahkan. Tanpa progres, iman dapat membeku menjadi kebiasaan. Dan ketika iman membeku, ia mudah kehilangan daya ubahnya.

Tetapi progres iman juga tidak boleh berjalan tanpa pagar kritis. Di sini, bahaya pertama yang perlu diwaspadai adalah fideisme. Fideisme muncul ketika iman dipisahkan dari tanggung jawab berpikir. Orang merasa cukup percaya tanpa perlu memahami, seolah-olah akal budi tidak punya tempat dalam hidup beriman. Di lapangan pastoral, sikap seperti ini berbahaya. Ia membuat umat mudah terombang-ambing oleh emosi keagamaan, mudah menerima klaim-klaim rohani yang tidak teruji, dan gampang mencampurkan iman dengan sugesti, sensasi, bahkan takhayul. Iman lalu tidak bertumbuh menjadi dewasa, tetapi justru menjadi rapuh karena berdiri di atas antusiasme yang tidak ditopang kedalaman.

Sebaliknya, progres iman juga harus waspada terhadap deisme. Berbeda dari fideisme yang menutup akal, deisme justru menjauhkan Allah. Dalam cara pandang ini, Allah diakui ada, tetapi seolah tinggal jauh dari dunia. Ia dipahami sebagai pencipta yang tidak lagi terlibat, Allah yang tidak sungguh hadir, tidak menyapa sejarah, dan tidak menyentuh pergulatan konkret manusia. Bagi kehidupan pastoral, bahaya deisme tidak kecil. Ia melahirkan religiositas yang dingin: orang percaya kepada Allah, tetapi tidak lagi mengalami-Nya sebagai Dia yang dekat, memanggil, menegur, menghibur, dan menyertai. Iman berubah menjadi pengakuan abstrak, bukan lagi perjumpaan yang menggerakkan hidup.

Karena itu, progres iman yang sehat harus bergerak di antara dua jebakan ini. Ia tidak boleh jatuh ke dalam fideisme yang anti-intelektual, tetapi juga tidak boleh tergelincir ke dalam deisme yang menjauhkan Allah dari sejarah. Iman Kristen adalah iman yang berpikir dan menyembah sekaligus. Ia menggunakan akal budi, tetapi tidak tunduk sepenuhnya pada rasionalisme. Ia hidup dari wahyu, tetapi tidak memusuhi pertanyaan. Ia mengakui misteri, tetapi tidak menjadikan misteri sebagai alasan untuk berhenti bertanggung jawab secara intelektual.

Lalu ada soal lain yang juga tidak kalah penting: praktik iman umat. Di banyak tempat, problem iman tidak selalu muncul dalam bentuk penolakan terhadap Allah, tetapi justru dalam bentuk pencampuran konsep tentang Allah dengan berbagai pandangan yang kabur. Pada titik ini, praktik iman perlu waspada terhadap panteisme. Pandangan ini menyamakan Allah dengan alam semesta, seolah-olah segala sesuatu adalah Allah. Sekilas, ini terdengar spiritual dan menarik, apalagi ketika dibungkus dalam bahasa kedekatan dengan alam. Namun, secara teologis, panteisme menghapus perbedaan mendasar antara Allah dan ciptaan. Jika Allah disamakan dengan segala sesuatu, maka hilanglah transendensi Allah, dan bersama itu hilang pula makna penyembahan, rahmat, dan keselamatan.

Kewaspadaan terhadap panteisme penting dalam pastoral, terutama ketika umat mulai menempatkan unsur-unsur ciptaan, benda-benda, tempat-tempat, atau kekuatan-kekuatan tertentu dalam posisi yang nyaris ilahi. Gereja tentu mengajarkan penghargaan terhadap ciptaan. Akan tetapi, penghargaan tidak sama dengan pendewaan. Ciptaan tetap ciptaan; Allah tetap Allah. Jika batas ini kabur, maka iman dapat bergeser dari pengenalan akan Pencipta menuju ketergantungan religius pada ciptaan.

Di sisi lain, praktik iman juga perlu kritis terhadap panenteisme. Di sinilah kehati-hatian teologis benar-benar dibutuhkan, sebab panenteisme sering tampil lebih halus. Ia biasanya berbicara tentang dunia yang berada dalam Allah, sementara Allah tetap melampaui dunia.
Sekilas, bahasa ini terdengar dekat dengan ajaran tentang kehadiran Allah dalam segala sesuatu. Tetapi, jika tidak dijaga dengan cermat, panenteisme dapat mengaburkan perbedaan ontologis antara Allah dan ciptaan. Masalahnya muncul ketika dunia dipahami bukan hanya sebagai realitas yang diciptakan dan ditopang Allah, tetapi seolah menjadi bagian internal dari keberadaan Allah sendiri.

Karena itu, pastoral mesti jernih membedakan antara imanensi Allah dan identitas Allah dengan dunia. Allah memang hadir dan bekerja dalam ciptaan, tetapi kehadiran itu tidak berarti Allah larut ke dalam ciptaan. Allah dekat, tetapi tidak melebur. Allah menopang dunia, tetapi dunia bukan bagian dari esensi-Nya. Ketelitian semacam ini bukan soal permainan istilah, melainkan menyangkut fondasi iman. Bila bahasa-bahasa rohani yang kabur dibiarkan begitu saja, umat dapat perlahan bergerak ke arah pemahaman yang indah di telinga, tetapi rapuh secara teologis.

Di titik inilah kita melihat betapa besar tanggung jawab karya pastoral. Pastoral tidak cukup hanya menguatkan devosi. Ia juga harus menertibkan cara berpikir. Pastoral tidak cukup hanya menyentuh perasaan. Ia juga harus membentuk penilaian iman. Pastoral tidak cukup hanya membuat umat aktif. Ia juga harus menolong mereka menjadi dewasa. Tantangan zaman ini menuntut Gereja untuk membina umat yang tidak hanya saleh, tetapi juga cerdas dalam iman; tidak hanya rajin, tetapi juga reflektif; tidak hanya taat, tetapi juga mengerti mengapa ia percaya.

Dengan kata lain, Gereja membutuhkan umat yang mempunyai ketangguhan intelektual tanpa menjadi dingin, dan kedalaman rohani tanpa menjadi anti-kritis. Tanpa resiliensi intelektual teologis, umat akan mudah goyah ketika berhadapan dengan arus skeptisisme, relativisme, dan propaganda budaya. Tanpa progres iman, umat akan berhenti pada tingkat formalitas religius yang tidak sanggup menopang hidup ketika berhadapan dengan krisis. Jika keduanya tidak dibangun, maka ateisme praktis akan tumbuh subur justru di dalam komunitas yang secara lahiriah tampak religius.

Pada akhirnya, karya pastoral yang otentik adalah karya yang berani membentuk umat secara utuh. Ia tidak mengorbankan intelektualitas demi semangat sesaat, tetapi juga tidak mematikan api iman demi kecanggihan argumentasi. Ia menolak rasionalisasi defensif, tetapi juga menolak fideisme. Ia menolak deisme yang menjauhkan Allah, tetapi juga menolak panteisme dan bersikap kritis terhadap panenteisme yang mengaburkan batas antara Allah dan ciptaan. Di situlah pastoral menemukan relevansinya: bukan sekadar menjaga umat tetap berada di dalam pagar agama, tetapi menolong mereka sungguh hidup dalam iman yang cerdas, jernih, dan bertumbuh.

Sebab di zaman ini, ancaman terbesar bagi Gereja belum tentu datang dari mereka yang terang-terangan berkata bahwa Allah tidak ada. Ancaman yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih luas, adalah ketika umat tetap berbicara tentang Allah, namun hidup tanpa Allah sebagai pusatnya. Dan di hadapan kenyataan itu, pastoral tidak boleh puas menjadi pengelola kegiatan. Pastoral harus kembali menjadi sekolah iman, ruang pembentukan akal budi, dan jalan pendewasaan rohani.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bahasa yang Melukai: Telaah Etis atas Ghibah, Fitnah, Hasut, Celaan, Bully, dan Roasting
Makna Hidup di Era Algoritma
Jokowi dan Prabowo : Hubungan Unik dalam Politik Indonesia
Pemikiran Alfred North Whitehead tentang Tuhan dan Kejahatan
Membongkar Irasionalitas Menjelang Suksesi
Kemerdekaan Berpendapat dan Tantangannya dalam Pergeseran Wadah dan Cara
Menghindari Sikap Sinis dan Memperkuat Sikap Skeptis dalam Jurnalisme
Politik di Persimpangan Konotasi Negatif dan Sangkalannya
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 10:58 WITA

Bahasa yang Melukai: Telaah Etis atas Ghibah, Fitnah, Hasut, Celaan, Bully, dan Roasting

Senin, 21 Oktober 2024 - 21:19 WITA

Makna Hidup di Era Algoritma

Senin, 21 Oktober 2024 - 14:55 WITA

Jokowi dan Prabowo : Hubungan Unik dalam Politik Indonesia

Sabtu, 12 Oktober 2024 - 16:29 WITA

Pemikiran Alfred North Whitehead tentang Tuhan dan Kejahatan

Rabu, 9 Oktober 2024 - 00:35 WITA

Membongkar Irasionalitas Menjelang Suksesi

Sabtu, 17 Agustus 2024 - 13:49 WITA

Kemerdekaan Berpendapat dan Tantangannya dalam Pergeseran Wadah dan Cara

Selasa, 28 Mei 2024 - 13:07 WITA

Menghindari Sikap Sinis dan Memperkuat Sikap Skeptis dalam Jurnalisme

Jumat, 24 Mei 2024 - 14:24 WITA

Politik di Persimpangan Konotasi Negatif dan Sangkalannya

Berita Terbaru