LopoNTT.id – Menjadi Orang yang Berbahagia, Bertolak dari Kepemilikan menuju Menjadi – oleh Romo Yudel Neno
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki. Rumah yang bagus, jabatan yang tinggi, kendaraan yang layak, gaji yang besar, lingkaran sosial yang luas, bahkan pengakuan publik, kerap dipandang sebagai tanda bahwa seseorang telah berhasil menjadi bahagia. Logika semacam ini sangat kuat membentuk cara berpikir zaman ini. Akibatnya, manusia sering mengejar kebahagiaan melalui penumpukan, bukan melalui pendewasaan diri. Kita sibuk memiliki banyak hal, tetapi tidak selalu sungguh-sungguh menjadi manusia yang utuh.
Di titik inilah refleksi Aristoteles tetap relevan. Bagi Aristoteles, kebahagiaan bukan pertama-tama soal memiliki sesuatu di luar diri, melainkan soal menjadi manusia yang hidup baik. Kebahagiaan, dalam pengertiannya yang luhur, bukan kesenangan sesaat, bukan pula keberuntungan yang datang dan pergi. Kebahagiaan adalah keadaan hidup yang baik, yang dicapai ketika manusia menjalankan fungsi terdalamnya secara benar, yakni hidup menurut akal budi dan kebajikan. Dengan kata lain, manusia berbahagia bukan karena ia menumpuk milik, melainkan karena ia membentuk dirinya menjadi pribadi yang baik.
Pandangan ini sangat penting untuk menertibkan kekacauan cara berpikir kita. Zaman modern cenderung menggoda manusia untuk percaya bahwa kebahagiaan ada di luar dirinya, yakni pada benda, citra, status, dan pengakuan. Aristoteles justru mengarahkan perhatian kita ke dalam: apakah manusia itu hidup dengan bijaksana, adil, berani, tahu menguasai diri, dan mampu membangun relasi yang baik? Sebab seseorang dapat memiliki banyak hal, tetapi tetap gelisah. Ia dapat tampak berhasil, tetapi batinnya rapuh. Ia dapat dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa sepi. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak identik dengan kepemilikan.
Menurut Aristoteles, kebahagiaan dicapai melalui latihan kebajikan. Orang tidak menjadi baik hanya dengan mengetahui apa yang baik. Ia menjadi baik karena membiasakan diri melakukan yang baik. Di sini kebahagiaan tidak hadir sebagai hadiah instan, tetapi sebagai buah dari pembentukan karakter. Kebahagiaan menuntut disiplin batin. Manusia harus belajar memilih yang tepat, menahan yang berlebihan, dan mengarahkan dirinya pada yang benar. Dalam bahasa Aristoteles, kebajikan terletak pada jalan tengah yang bijaksana, bukan pada kekurangan dan bukan pada kelebihan. Keberanian, misalnya, berada di antara pengecut dan nekat. Kedermawanan berada di antara kikir dan boros. Maka kebahagiaan lahir ketika hidup manusia ditata oleh keseimbangan moral.
Namun, di tengah refleksi itu, kita perlu melangkah lebih jauh. Kebahagiaan bukan hanya soal menjadi baik secara moral, tetapi juga soal memahami hidup sebagai proses pertumbuhan. Di sinilah pemikiran Alfred North Whitehead memberi cahaya tambahan yang penting. Whitehead melihat kenyataan bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai proses menjadi. Dunia bukan pertama-tama kumpulan benda yang selesai dan beku. Dunia adalah peristiwa, gerak, relasi, dan pembentukan diri yang terus berlangsung. Dalam terang ini, manusia tidak dapat dipahami hanya dari apa yang ia punyai, tetapi dari apa yang sedang ia jadikan dalam hidupnya.
Gagasan Whitehead membantu kita melihat bahwa hidup manusia tidak boleh berhenti pada logika kepemilikan. Kepemilikan memang perlu, sebab manusia membutuhkan sarana hidup. Orang perlu makan, rumah, pekerjaan, jaminan dasar, dan ruang aman untuk bertumbuh. Tetapi masalah muncul ketika kepemilikan menjadi pusat makna hidup. Saat itu manusia tidak lagi bertanya, “Saya ini sedang menjadi siapa?” melainkan hanya bertanya, “Saya sudah punya apa?” Pertanyaan kedua penting, tetapi tidak cukup. Sebab manusia yang hanya hidup dalam horizon memiliki akan mudah terjebak dalam kecemasan, persaingan, iri hati, dan rasa kurang yang tidak berkesudahan.
Whitehead mengingatkan bahwa hidup sejati adalah hidup yang terus menjadi. Menjadi lebih matang. Menjadi lebih peka. Menjadi lebih benar. Menjadi lebih relasional. Menjadi lebih manusiawi. Dalam kerangka itu, kebahagiaan tidak lagi dipahami sebagai titik akhir setelah semua target tercapai, melainkan sebagai kualitas hidup yang tumbuh ketika seseorang bergerak dari penguasaan menuju pembentukan diri. Dari menumpuk menuju mengolah. Dari menggenggam menuju memberi. Dari memiliki dunia di luar dirinya menuju menata dunia di dalam dirinya.
Peralihan dari memiliki menuju menjadi sebenarnya merupakan jalan pembebasan. Orang yang terlalu terikat pada milik akan menggantungkan harga dirinya pada sesuatu yang rapuh. Ketika milik itu hilang, ia merasa hidupnya runtuh. Ketika statusnya menurun, ia merasa dirinya tidak berarti. Ketika orang lain lebih unggul, ia merasa terancam. Padahal, jika manusia berakar pada proses menjadi, ia tidak mudah hancur hanya karena kehilangan sesuatu. Sebab pusat hidupnya bukan terletak pada apa yang menempel padanya, tetapi pada siapa dirinya dalam kualitas batin, cara berpikir, cara mencintai, dan cara hadir bagi sesama.
Dalam hal ini, Aristoteles dan Whitehead dapat dipertemukan secara subur. Aristoteles menegaskan bahwa kebahagiaan adalah aktivitas hidup menurut kebajikan. Whitehead menegaskan bahwa kenyataan manusia selalu berada dalam proses menjadi. Jika kedua gagasan ini dirangkai, maka kita dapat mengatakan: kebahagiaan adalah proses menjadi manusia yang baik secara terus-menerus. Jadi, kebahagiaan bukan benda yang dimiliki, melainkan kualitas keberadaan yang dibangun. Kebahagiaan bukan barang jadi, melainkan pertumbuhan. Kebahagiaan bukan prestise, melainkan pematangan.
Titik penting lain dalam pemikiran Aristoteles ialah bahwa manusia adalah makhluk relasional. Ia tidak hidup sendirian. Karena itu, kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas relasi manusia dengan dirinya sendiri, tetapi juga oleh kualitas relasinya dengan sesama. Aristoteles memberi tempat yang sangat penting bagi persahabatan. Persahabatan yang benar bukan relasi yang dibangun atas manfaat semata atau kesenangan sesaat, melainkan relasi yang berakar pada kebaikan. Dalam persahabatan sejati, orang tidak memakai orang lain sebagai alat, tetapi menerima dan mencintai sesama sebagai pribadi.
Karena itu, dari sudut relasi, ada beberapa faktor yang menghambat kebahagiaan. Pertama, kegagalan menguasai diri. Orang yang dikuasai amarah, iri hati, nafsu berlebihan, atau kerakusan akan sulit membangun relasi yang sehat. Ia membawa kekacauan batin ke dalam perjumpaan dengan orang lain. Kedua, salah mengerti tujuan relasi. Ketika relasi hanya dipakai untuk keuntungan, status, atau kenyamanan diri, maka relasi menjadi dangkal dan rapuh. Ketiga, absennya kebajikan seperti keadilan, kejujuran, kesetiaan, dan kemurahan hati. Tanpa kebajikan-kebajikan ini, relasi mudah berubah menjadi arena manipulasi.
Keempat, ketidakmampuan menerima orang lain sebagai sesama yang setara. Aristoteles melihat bahwa hidup baik menuntut tata relasi yang adil. Orang yang selalu ingin menang sendiri, merasa paling penting, atau terus-menerus menempatkan orang lain di bawah dirinya, sesungguhnya sedang merusak kemungkinan bahagia. Kelima, isolasi batin. Sekalipun hidup di tengah keramaian, seseorang dapat terasing jika ia tidak mempunyai relasi yang tulus. Kesepian seperti ini menjadi penghambat besar bagi kebahagiaan. Keenam, ketidakteraturan dalam komunitas yang lebih luas. Manusia juga hidup dalam polis, dalam masyarakat. Bila ruang bersama dipenuhi ketidakadilan, fitnah, permusuhan, dan perebutan kuasa, maka kebahagiaan pribadi pun ikut terancam.
Karena itu, menjadi bahagia menuntut kerja rangkap. Di satu sisi, manusia harus menata dirinya. Di sisi lain, ia harus menata relasinya. Ia mesti berani berpindah dari pusat hidup yang berorientasi pada kepemilikan ke pusat hidup yang berorientasi pada pertumbuhan pribadi. Ia mesti belajar bahwa kebahagiaan tidak dibangun oleh jumlah milik, tetapi oleh kualitas diri. Ia mesti sadar bahwa orang yang memiliki banyak belum tentu menjadi banyak. Yang menentukan bukan berapa besar yang ada di tangan, melainkan seberapa dalam yang tumbuh di dalam hati.
Pada akhirnya, kebahagiaan adalah soal menjadi. Menjadi manusia yang tahu arah hidupnya. Menjadi pribadi yang mampu mengolah keinginan, menimbang pilihan, dan bertindak menurut kebajikan. Menjadi sesama yang sanggup membangun persahabatan yang tulus. Menjadi pribadi yang tidak diperbudak oleh milik, melainkan menggunakan milik sebagai sarana untuk hidup yang baik. Menjadi manusia yang tidak sekadar hadir, tetapi bermakna.
Dalam dunia yang terus memikat manusia untuk mengumpulkan, refleksi ini perlu ditegaskan kembali: kita tidak diselamatkan oleh apa yang kita punya, tetapi oleh siapa kita sedang menjadi. Di sanalah kebahagiaan memperoleh wajahnya yang paling benar. Bukan sebagai kemewahan yang dipamerkan, melainkan sebagai kedalaman hidup yang dipancarkan. Bukan sebagai hasil dari memiliki segalanya, melainkan sebagai buah dari menjadi manusia yang sungguh baik.











