Leader atau Dealer? Membaca Kepemimpinan dalam Politik Indonesia

- Penulis

Kamis, 19 Maret 2026 - 04:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Curah Pikir, LopoNTT.id – Leader atau Dealer? Membaca Kepemimpinan dalam Politik Indonesia – oleh oleh Rm. Yudel Neno, Pr

Perdebatan tentang kepemimpinan selalu menjadi tema menarik dalam politik. Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Bocor Alus Politik milik Tempo, filsuf publik Rocky Gerung mengangkat tema yang cukup provokatif: “Leader atau Dealer.” Tema ini kemudian dikaitkan dengan sosok Prabowo Subianto sebagai figur kepemimpinan dalam lanskap politik Indonesia hari ini.

Pertanyaan tersebut sesungguhnya bukan sekadar permainan kata. Ia merupakan cara untuk membaca karakter kepemimpinan dalam politik modern. Dalam pengertian sederhana, leader adalah pemimpin yang bergerak dengan visi dan arah yang jelas bagi masa depan bangsa. Seorang leader tidak hanya mengelola kekuasaan, tetapi mengarahkan perjalanan sejarah melalui gagasan, nilai, dan keberanian mengambil keputusan strategis. Kepemimpinan jenis ini biasanya ditandai oleh kemampuan membangun imajinasi kolektif masyarakat tentang masa depan yang lebih baik.

Sebaliknya, istilah dealer merujuk pada pemimpin yang lebih banyak beroperasi dalam logika transaksi politik. Kekuasaan dipertahankan melalui negosiasi, kompromi, dan pembagian kepentingan di antara berbagai kekuatan politik. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan lebih terlihat sebagai seni mengelola keseimbangan kekuasaan daripada menghadirkan arah perubahan yang besar. Politik menjadi arena tawar-menawar yang pragmatis.

Dilema antara leader dan dealer sebenarnya tidak hanya menyangkut individu tertentu. Ia mencerminkan realitas politik Indonesia yang sangat ditentukan oleh sistem koalisi. Dalam sistem seperti ini, seorang presiden sering kali harus memainkan dua peran sekaligus. Di satu sisi, ia diharapkan tampil sebagai pemimpin yang memiliki visi nasional. Namun di sisi lain, ia juga harus mampu mengelola berbagai kepentingan politik yang beragam agar stabilitas pemerintahan tetap terjaga.

Karena itu, pertanyaan yang diajukan Rocky Gerung lebih tepat dipahami sebagai refleksi tentang arah kepemimpinan nasional. Apakah kepemimpinan politik Indonesia akan lebih menonjolkan dimensi visi dan gagasan besar, ataukah lebih didominasi oleh praktik transaksi kekuasaan yang pragmatis? Pertanyaan ini penting karena kualitas kepemimpinan suatu bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan pemimpinnya untuk melampaui sekadar manajemen kekuasaan.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar biasanya dipimpin oleh figur yang mampu memadukan keduanya. Seorang pemimpin memang perlu memiliki kecakapan politik untuk membangun koalisi dan menjaga stabilitas.

Namun kecakapan itu tidak boleh menggantikan fungsi utama kepemimpinan, yakni menghadirkan arah dan harapan bagi masa depan bersama.
Dalam konteks itulah tema “leader atau dealer” menjadi relevan. Ia mengingatkan bahwa politik tidak boleh berhenti pada sekadar negosiasi kepentingan. Politik seharusnya tetap menjadi ruang bagi lahirnya visi, gagasan, dan keberanian untuk membawa bangsa melangkah lebih jauh.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Janganlah Membawa Apa-Apa ..dan Kebaskanlah Debu di Kaki (Refleksi HUT ke – 34)
OMK Antara Cinta dan Moral
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 10:58 WITA

Bahasa yang Melukai: Telaah Etis atas Ghibah, Fitnah, Hasut, Celaan, Bully, dan Roasting

Senin, 21 Oktober 2024 - 21:19 WITA

Makna Hidup di Era Algoritma

Senin, 21 Oktober 2024 - 14:55 WITA

Jokowi dan Prabowo : Hubungan Unik dalam Politik Indonesia

Sabtu, 12 Oktober 2024 - 16:29 WITA

Pemikiran Alfred North Whitehead tentang Tuhan dan Kejahatan

Rabu, 9 Oktober 2024 - 00:35 WITA

Membongkar Irasionalitas Menjelang Suksesi

Sabtu, 17 Agustus 2024 - 13:49 WITA

Kemerdekaan Berpendapat dan Tantangannya dalam Pergeseran Wadah dan Cara

Selasa, 28 Mei 2024 - 13:07 WITA

Menghindari Sikap Sinis dan Memperkuat Sikap Skeptis dalam Jurnalisme

Jumat, 24 Mei 2024 - 14:24 WITA

Politik di Persimpangan Konotasi Negatif dan Sangkalannya

Berita Terbaru