
MAUMERE — LopoNTT.com – Kelompok Santo Joachim di Maumere, Kabupaten Sikka, merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-7 pada Minggu, 16 Agustus 2026. Kelompok yang berdiri sejak 16 Agustus 2019 itu menegaskan kembali komitmennya untuk terus bertumbuh sebagai komunitas doa sekaligus mengembangkan gerakan solidaritas bagi sesama.

Ketua Kelompok Santo Joachim, Andreas Viany Dede, mengatakan, hingga memasuki usia tujuh tahun, kelompok tersebut telah memiliki 34 anggota yang berasal dari beragam profesi. Sebagian besar anggotanya bekerja sebagai tukang. Perbedaan profesi maupun latar belakang etnik tidak menjadi penghalang bagi para anggota untuk membangun kebersamaan.

Dalam sambutan pada perayaan ulang tahun tersebut, Bapak Antonius Turu mengisahkan bahwa Kelompok Santo Joachim awalnya dibentuk oleh sembilan orang. Pada masa awal pembentukannya, aktivitas kelompok terutama diarahkan pada doa bersama sebagai fondasi kebersamaan.

Doa bersama tersebut hingga kini tetap dipertahankan dan dilaksanakan secara rutin setiap Selasa malam atau sekali dalam sepekan.

Menurut Bapak Anton, yang juga merupakan salah satu Ketua Lingkungan di Paroki Nita ini, terus berkisah bahwa setelah berjalan sekitar satu tahun, para anggota mulai berpikir untuk membawa semangat doa kepada tindakan yang lebih konkret. Meskipun kemampuan keuangan kelompok masih terbatas, mereka mulai mengumpulkan dana dan menggunakannya untuk membantu sesama.

Salah satu bentuk solidaritas yang pernah dilakukan ialah membantu pembangunan sebuah ruang di wilayah Lingkungan Tebuk I. Gerakan sederhana tersebut kemudian menjadi salah satu titik perkembangan kelompok dari komunitas yang berfokus pada doa menuju kelompok yang juga memiliki perhatian sosial.
Perjalanan kelompok selanjutnya berkembang dengan melihat berbagai potensi yang dimiliki anggotanya. Salah satunya ialah kemampuan dalam bidang tarik suara. Dari kebersamaan tersebut kemudian terbentuk kelompok koor yang selanjutnya secara resmi terdaftar sebagai salah satu koor paroki.
Anton mengatakan, perkembangan itu menunjukkan bahwa kelompok tidak berhenti pada pertemuan rutin, tetapi terus mencari bentuk keterlibatan yang dapat memberi manfaat bagi Gereja dan masyarakat.
Dalam berbagai evaluasi yang dilakukan, keberadaan Kelompok Santo Joachim dinilai berkembang secara positif. Semangat saling mendukung antaranggota juga tampak melalui berbagai kegiatan bersama, baik dalam kehidupan menggereja maupun dalam hubungan sosial.

Bapak Iwan menambahkan, salah satu kekuatan kelompok tersebut ialah adanya gerakan solidaritas suka dan duka. Ketika anggota atau keluarga anggota mengalami peristiwa sukacita maupun kedukaan, kelompok berusaha hadir dan memberikan dukungan.
Besaran bantuan disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Namun, menurut dia, nilai utama dari gerakan tersebut bukan terletak pada nominal bantuan, melainkan pada kepedulian dan rasa kemanusiaan yang dibangun di antara para anggota.
“Jumlahnya sesuai kesepakatan, tetapi ini merupakan sebuah gerakan kemanusiaan,” demikian semangat yang ditekankan Iwan.
Romo Yudel Neno, yang turut hadir dalam kebersamaan tersebut, mengatakan bahwa perjumpaan dengan Kelompok Santo Joachim menjadi sebuah pengalaman yang membanggakan karena kelompok ini mampu menjaga semangat kebersamaan selama tujuh tahun.
Ia mendorong seluruh anggota untuk mempertahankan dua sikap penting dalam kehidupan berkelompok, yakni komitmen dan konsistensi. Menurut dia, sebuah komunitas dapat bertahan bukan hanya karena banyaknya kegiatan yang dibuat, melainkan karena kesediaan setiap anggota untuk tetap hadir, terlibat, dan menjaga tujuan bersama.
Ia juga mengingatkan bahwa doa yang menjadi titik awal berdirinya kelompok perlu terus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata berupa perhatian, pelayanan, dan solidaritas kepada sesama.
Pada akhir pesannya, Romo Yudel mengajak anggota Kelompok Santo Joachim untuk terus memperkuat semangat kerja sama dengan mengutip pemikiran industrialis India, Ratan Tata, bahwa jika seseorang ingin berjalan cepat, ia dapat berjalan sendiri, tetapi jika ingin berjalan jauh, ia perlu berjalan bersama.
Semangat tersebut dinilai sejalan dengan perjalanan Kelompok Santo Joachim. Bermula dari sembilan orang yang berkumpul untuk berdoa, kelompok ini kini telah berkembang menjadi komunitas beranggotakan 34 orang dengan beragam profesi dan latar belakang.
Memasuki usia ketujuh, tantangan kelompok bukan sekadar mempertahankan jumlah anggota ataupun kegiatan rutin, melainkan menjaga agar kebersamaan itu semakin memberi manfaat bagi orang lain.
Dengan tetap menjadikan doa sebagai fondasi, Kelompok Santo Joachim ingin melanjutkan perjalanan dari persekutuan menuju pelayanan, dari kebersamaan menuju solidaritas, serta dari perhatian di antara anggota menuju kepedulian yang semakin luas kepada sesama.
oleh Yudel Neno, Pr








