Wisuda Undana Tepat di Dies Natalis ke-64, Undana Tegaskan Objektivitas Perekrutan Mahasiswa Murni Berdasarkan Kecerdasan Orisinal

- Penulis

Sabtu, 5 September 2026 - 01:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUPANG — LopoNTT.id – Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa kecerdasan seseorang akan kehilangan daya gunanya apabila tidak disertai ketekunan dan konsistensi.

“Kecerdasan tanpa konsistensi menjadi potensi yang terbuang,” demikian salah satu penegasan Jefri saat menyampaikan sambutan pada Wisuda Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana Undana Periode III Tahun 2026, Sesi II, di Grha Cendana Undana, Kupang, Selasa (1/9/2026).

Wisuda kali ini memiliki makna tersendiri karena berlangsung bertepatan dengan Dies Natalis ke-64 Universitas Nusa Cendana. Momentum akademik itu sekaligus menjadi ruang bagi Undana untuk menegaskan arah transformasi kelembagaan, penguatan integritas akademik, serta komitmen membangun tata kelola pendidikan tinggi yang transparan dan objektif.

Rapat Terbuka Senat pada Sesi II dipimpin Ketua Senat Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D., dan dihadiri Bupati Kupang Yosef Lede, S.H. Rangkaian kegiatan juga diisi dua orasi ilmiah yang disampaikan Dr.Sn. Yohanes K.N. Liliweri, S.Sn., M.Sn. dan Odi Th. E. Selan, S.Si., M.Sc., Ph.D.

Sebelumnya, pada Sesi I yang dilaksanakan pada hari yang sama, Undana mengukuhkan 936 lulusan dari jenjang Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana. Sesi tersebut dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena. Dalam sambutannya, Melki memberikan apresiasi terhadap kepedulian sosial sivitas akademika Undana yang ikut merespons situasi bencana gempa bumi di Flores.

Secara keseluruhan, Wisuda Periode III Tahun 2026 diikuti 1.872 lulusan dan dilaksanakan dalam dua sesi. Dengan 936 lulusan dikukuhkan pada Sesi I, maka Sesi II juga diikuti 936 wisudawan dan wisudawati. Jumlah 936 peserta Sesi II itu merupakan hasil perhitungan dari total 1.872 lulusan dikurangi 936 lulusan pada Sesi I.

Di hadapan para lulusan, orangtua, sivitas akademika, dan tamu undangan, Rektor tidak hanya berbicara mengenai kecerdasan dan konsistensi. Ia juga memberi perhatian pada persoalan integritas dan objektivitas dalam penerimaan mahasiswa baru.

Menurut Prof. Jefri, proses masuk Undana harus berlangsung melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan. Kompetensi calon mahasiswa menjadi dasar seleksi. Karena itu, proses penerimaan mahasiswa tidak boleh bergantung pada kedekatan, relasi personal, ataupun praktik yang dalam keseharian sering disebut sebagai menggunakan “orang dalam”.

Penegasan tersebut sejalan dengan kebijakan resmi Undana mengenai penerimaan mahasiswa baru dan pembiayaan perkuliahan. Universitas menyatakan proses tersebut harus berjalan sesuai aturan, bersih, transparan, bebas gratifikasi, serta terbebas dari pungutan di luar ketentuan resmi.

Komitmen itu penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi. Setiap calon mahasiswa harus memperoleh kesempatan berdasarkan kemampuan yang dapat diuji, bukan karena siapa yang dikenalnya. Dalam kerangka itulah kecerdasan orisinal memperoleh tempat: kemampuan akademik harus diberi kesempatan secara adil, sementara setelah seseorang diterima menjadi mahasiswa, konsistensi menjadi bagian penting dari proses membentuk kualitas dirinya.

Pesan tentang konsistensi tersebut menjadi relevan ketika ditempatkan dalam perjalanan seorang mahasiswa. Kecerdasan dapat membuka jalan, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin keberhasilan. Proses akademik membutuhkan ketekunan, disiplin, integritas, kemampuan beradaptasi, serta kesediaan untuk terus belajar.

Pada usia ke-64, Undana juga menegaskan transformasinya menuju “World Class, Locally Relevant University”, yakni perguruan tinggi yang memiliki daya saing kelas dunia tetapi tetap berakar dan relevan dengan persoalan masyarakat di daerahnya.

Transformasi itu dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, program insentif publikasi, pendampingan jurnal, pembiayaan studi lanjut, hingga percepatan peningkatan jumlah guru besar. Bersamaan dengan itu, Undana memperkuat lingkungan akademik yang berintegritas melalui prinsip zero tolerance terhadap kekerasan serta zero gratifikasi akademik. Pemberian bingkisan ataupun bentuk gratifikasi kepada dosen penguji tidak dibenarkan.

Kampus juga mendorong lingkungan bebas rokok, narkoba, dan alkohol, meningkatkan penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran, serta mengoptimalkan fasilitas perpustakaan. Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa gagasan menuju kampus berkelas dunia tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik atau pencapaian peringkat, tetapi juga perubahan budaya akademik, tata kelola, dan kualitas sumber daya manusia.

Di tengah suasana sukacita wisuda, perhatian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di Flores juga mendapat tempat. Mengawali pidato akademiknya, Rektor mengajak seluruh hadirin menyampaikan doa bagi masyarakat terdampak bencana, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, warga yang terluka, mengungsi, dan sedang menjalani proses pemulihan.

Seruan tersebut mempertemukan perayaan akademik dengan tanggung jawab kemanusiaan. Universitas yang bertumbuh menuju reputasi internasional tetap dituntut mempunyai kepekaan terhadap realitas masyarakat di sekitarnya. Kepedulian terhadap Flores sekaligus menjadi penegasan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh kehilangan dimensi simpati, empati, dan solidaritas.

Semangat itu juga telah muncul pada Sesi I. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi gerak sivitas akademika Undana dalam merespons bencana di Flores. Menurutnya, keberadaan sebuah rumah intelektual turut diuji dari kepekaan moralnya serta kemampuannya memberikan manfaat kepada masyarakat.

Suasana Sesi II semakin hidup melalui kreativitas sivitas akademika Undana. Pertunjukan seni bertajuk “Harum Nusantara: Sejak Sebutir Cendana Ditanam di Kupang 1962” turut mewarnai rangkaian acara. Pertunjukan tersebut merefleksikan perjalanan dan ketangguhan Undana sejak berdiri pada 1962.

Cendana dalam pertunjukan itu tidak sekadar hadir sebagai nama universitas, tetapi dapat dibaca sebagai simbol sebuah institusi yang berakar, bertumbuh, bertahan, dan diharapkan terus menyebarkan “keharuman” karya melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada Wisuda Sesi II tersebut, doa dipimpin oleh Romo Yudel Neno, Pr. Penugasan itu diberikan secara resmi oleh Universitas Nusa Cendana melalui Surat Nomor 7544/UN15.4/PP/2026, tertanggal 19 Agustus 2026, perihal “Mohon Kesediaan Memimpin Doa”. Dalam surat itu, Undana meminta kesediaan Romo Yudel memimpin doa pada Dies Natalis ke-64 serta Wisuda Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana Periode III Tahun 2026, Selasa, 1 September 2026, pukul 13.00 Wita sampai selesai di Gedung Grha Cendana Universitas Nusa Cendana. Surat tersebut ditandatangani atas nama Rektor oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha Ina Rohi Detha, M.Si.

Dalam doa itu, Romo Yudel mengintensikan rasa syukur atas 64 tahun perjalanan Universitas Nusa Cendana, sekaligus memohon penyertaan Tuhan bagi Rektor, Senat Universitas, para pimpinan fakultas dan program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta seluruh keluarga besar Undana.

Doa secara khusus dipersembahkan bagi para wisudawan dan wisudawati agar pencapaian akademik tidak berhenti pada gelar, tetapi berbuah dalam kehidupan dan pengabdian. Para lulusan Sarjana didoakan agar mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata, para Magister agar mampu mengembangkan pengetahuan, sedangkan para Doktor diharapkan mampu menciptakan dan mengembangkan pengetahuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Para lulusan Program Profesi didoakan agar kompetensi yang dimiliki selalu berjalan bersama integritas moral, tanggung jawab, kepekaan sosial, dan semangat pelayanan.

Intensi doa juga menekankan pentingnya kerendahan hati intelektual. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk mengabdi. Pengetahuan tidak seharusnya menjauhkan seseorang dari kehidupan masyarakat, tetapi membawanya semakin dekat kepada persoalan manusia serta mendorongnya menghadirkan solusi.

Pada titik itulah pesan wisuda dan Dies Natalis ke-64 Undana menemukan benang merahnya. Perguruan tinggi membutuhkan mahasiswa yang diterima melalui proses yang objektif dan transparan. Mahasiswa yang telah memperoleh kesempatan belajar membutuhkan kecerdasan, tetapi kecerdasan itu harus ditopang konsistensi. Sementara ilmu yang diperoleh pada akhirnya dituntut untuk bertumbuh menjadi integritas dan pengabdian.

Wisuda 1 September 2026 akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya perjalanan akademik 1.872 lulusan. Momentum itu juga menegaskan perjalanan Undana memasuki usia ke-64 dengan agenda transformasi menuju perguruan tinggi yang berkelas dunia, tetapi tetap berakar pada realitas Nusa Tenggara Timur.

Pesan Rektor Undana pun menjadi relevan untuk dibawa pulang para lulusan: “Kecerdasan tanpa konsistensi menjadi potensi yang terbuang.” Di balik kalimat itu tersimpan tuntutan yang lebih besar, bahwa kecerdasan perlu memperoleh kesempatan secara objektif, kemudian dipelihara melalui konsistensi, dijaga dengan integritas, dan pada akhirnya dibuktikan melalui pengabdian kepada sesama.

oleh Yudel Neno, Pr

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Rayakan HUT ke-7, Kelompok Santo Joachim Komitmen Menuju Gerakan Solidaritas
OMK KAK dan OMK Paroki St. Ignatius Waibalun Gelar Sharing Bersama di Larantuka
Diutus Ikut NYD III di Maumere, Disambut KomKep Larantuka; Uskup Agung Kupang Berpesan: Jaga Diri dengan Baik
Momen Perpisahan dengan Suster Pedro, Pastor Paroki Mena Pesan Tetap Rawat Panggilan
Anggota DPRD Provinsi; Agustinus Nahak Siap Dukung Pelaksanaan Perayaan Hati Kudus Yesus di Dekenat Mena
Vikjen Keuskupan Atambua Membuka Diklat Sekretaris Paroki dan Menegaskan Peran Vital Pelayanan Gereja
Panen Jagung di SMAK Santa Filomena Mena, Siswa Belajar dari Lahan Sekolah
Dari Gugup ke Percaya Diri, Ujian Karya Tulis Jadi Bekal Siswa Lalian Menuju Dunia Kuliah
Berita ini 104 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:49 WITA

Makna Filosofis, Kultural, dan Teologis Sirih, Pinang, Ayam Jantan, dan Likton dalam Relasi Adat Sonaf Io Kufeu

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:42 WITA

Gubernur NTT dan Tegur Sapa: Etika Wajah dalam Kunjungan ke Stand Ekonomi Kreatif OMK

Rabu, 22 April 2026 - 01:45 WITA

Mendeteksi dan Mengkritisi Katastrofisasi dan Magnifikasi dalam Menyampaikan Pesan atau Nasihat

Rabu, 15 April 2026 - 11:39 WITA

Menjadi Orang yang Berbahagia, Bertolak dari Kepemilikan menuju Menjadi

Kamis, 19 Maret 2026 - 04:40 WITA

Leader atau Dealer? Membaca Kepemimpinan dalam Politik Indonesia

Minggu, 14 Juli 2024 - 15:39 WITA

Janganlah Membawa Apa-Apa ..dan Kebaskanlah Debu di Kaki (Refleksi HUT ke – 34)

Selasa, 30 April 2024 - 00:25 WITA

OMK Antara Cinta dan Moral

Berita Terbaru