Pematangsiantar — LopoNTT.id – Ketua Panitia Musyawarah Nasional (Munas) XV Unio Indonesia, Rm. Bernardus Sijabat, Pr, menegaskan bahwa perjumpaan para imam diosesan dari berbagai keuskupan di Indonesia bukan sekadar agenda organisasi, tetapi merupakan momentum untuk memperkuat persaudaraan, merefleksikan panggilan, dan membarui semangat pelayanan di tengah Gereja.

Hal tersebut disampaikan Rm. Bernardus dalam sambutannya pada rangkaian pembukaan Munas XV Unio Indonesia di Pematangsiantar, wilayah Keuskupan Agung Medan.

Mengawali sambutannya, Rm. Bernardus mengajak seluruh peserta untuk bersyukur kepada Tuhan karena para imam dapat berkumpul dalam keadaan sehat dan mengambil bagian dalam perhelatan nasional Unio Indonesia.
Ia menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh peserta yang datang dari berbagai wilayah Indonesia. Ucapan selamat datang juga menjadi bagian penting dalam pembukaan pertemuan tersebut, setelah sebelumnya Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan, RP. Michael Manurung, OFMCap, menyapa para peserta dan menyampaikan selamat datang di Pematangsiantar serta wilayah Keuskupan Agung Medan.
Menurut Rm. Bernardus, kehadiran para uskup dalam Munas XV Unindo memiliki makna yang jauh melampaui aspek seremonial. Kehadiran para gembala tersebut memperlihatkan kedekatan dan perhatian seorang bapa terhadap kehidupan dan pelayanan para imamnya.
Ia melihat kehadiran para uskup sebagai salah satu unsur yang memberi bobot tersendiri bagi refleksi dan perjumpaan selama Munas berlangsung. Kebersamaan antara uskup dan para imam sekaligus memperlihatkan wajah Gereja sebagai persekutuan yang dibangun dalam relasi kebapaan, persaudaraan, dan tanggung jawab bersama.
Kehadiran itu, menurut dia, juga menjadi tanda bahwa perjalanan pelayanan para imam tidak berlangsung sendirian. Para imam berada dalam kesatuan dengan uskup dan seluruh Gereja partikular tempat mereka diutus.
Dalam sambutannya, Rm. Bernardus turut menyoroti keberadaan para imam diosesan dari berbagai keuskupan di seluruh Indonesia. Pertemuan tersebut menjadi gambaran konkret tentang kekayaan sekaligus kekuatan Gereja lokal.
Para imam diosesan, katanya, memiliki peran penting dalam membangun kehidupan keuskupan melalui beragam karya pastoral yang dipercayakan kepada mereka. Melalui pelayanan para imam, Gereja lokal terus bertumbuh dan berusaha membangun kemandirian dalam karya perutusan.
Karena itu, kebersamaan dalam Unio Indonesia tidak semata-mata dimaknai sebagai pertemuan antarrekan seprofesi atau organisasi para imam. Perjumpaan tersebut menjadi ruang untuk saling meneguhkan identitas sebagai imam diosesan yang hidup dan berkarya di tengah umat dalam konteks pastoral yang berbeda-beda.
Rm. Bernardus juga mengingatkan bahwa panggilan untuk menjadi rasul selalu bermula dari gerakan Roh. Panggilan tersebut kemudian menuntun setiap imam untuk keluar dari dirinya sendiri dan hadir bagi umat yang dipercayakan kepadanya.
Dengan merujuk pada semangat pewartaan yang terus ditekankan Paus Fransiskus, ia mengajak para imam untuk tetap mewartakan Injil dengan semangat dan kegembiraan.
Panggilan imamat, dengan demikian, tidak boleh berhenti pada status atau jabatan gerejawi. Panggilan itu harus terus memperoleh bentuk konkret melalui kesediaan melayani, menjumpai umat, membangun persaudaraan, dan menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan kehidupan manusia.
Munas XV Unio Indonesia menjadi salah satu kesempatan bagi para imam diosesan untuk kembali melihat perjalanan panggilannya dalam terang kebersamaan. Pengalaman pastoral dari berbagai keuskupan dipertemukan sehingga dapat menjadi sumber pembelajaran bersama dalam menghadapi tantangan pelayanan Gereja yang terus berkembang.
Perayaan Ekaristi dalam rangkaian pembukaan Munas dipimpin oleh Uskup Siprianus Hormat, yang juga merupakan Pembina Unio Indonesia. Kehadiran para uskup, imam, panitia, dan seluruh peserta semakin menegaskan karakter Munas sebagai sebuah perjumpaan persaudaraan para imam diosesan dalam kesatuan dengan para gembala Gereja.
Melalui Munas XV Unio Indonesia di Pematangsiantar, semangat persaudaraan itu diharapkan tidak berhenti pada perjumpaan selama beberapa hari. Kebersamaan tersebut diharapkan menjadi energi pastoral yang dibawa kembali oleh setiap imam ke keuskupan dan tempat pelayanannya masing-masing.
Pada akhirnya, sebagaimana tergambar dalam sambutan Ketua Panitia, Munas menjadi ruang untuk menyadari kembali bahwa panggilan imamat tumbuh dari Roh, dipelihara dalam persaudaraan, dan menemukan maknanya dalam pelayanan kepada Gereja dan umat Allah.
oleh Yudel Neno, Pr









