LopoNTT.id – Dalam pemikiran Emmanuel Levinas, wajah selalu menghadirkan panggilan etis. Wajah bukan sekadar bentuk fisik yang dilihat mata, melainkan kehadiran manusia lain yang memanggil kita untuk keluar dari diri sendiri. Wajah meminta sapaan, penghargaan, kedekatan, dan tanggung jawab. Karena itu, ketika seorang pemimpin hadir langsung di tengah masyarakat, menatap wajah rakyat, mendengar suara mereka, dan menyentuh realitas hidup mereka, peristiwa itu tidak lagi menjadi agenda biasa. Ia berubah menjadi perjumpaan etis.

Kunjungan Gubernur NTT ke stand Pameran Ekonomi Kreatif OMK se-Dekenat Mena dapat dibaca dalam terang etika wajah tersebut. Gubernur tidak hanya datang sebagai pejabat negara, tetapi hadir sebagai pribadi yang menjumpai masyarakat dari dekat. Ia berjalan dari stand ke stand, menyapa para penjaga stand, melihat produk-produk unggulan, berdialog, dan memberi perhatian terhadap hasil kerja masyarakat. Dalam peristiwa itu, wajah pemimpin bertemu dengan wajah rakyat; wajah kekuasaan bertemu dengan wajah harapan.

Inilah yang dapat disebut sebagai politik sapaan. Politik sapaan bukan politik yang hanya bekerja melalui instruksi, regulasi, atau janji pembangunan. Politik sapaan adalah politik yang dimulai dari kedekatan. Ia mengandaikan kehadiran pemimpin yang mau turun, melihat, mendengar, dan menghargai. Dalam konteks ini, kunjungan Gubernur NTT ke stand ekonomi kreatif OMK menghadirkan pesan yang kuat: rakyat tidak hanya membutuhkan program, tetapi juga pengakuan; tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga perhatian; tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga kehadiran.

Dari sudut pandang Levinas, kehadiran semacam ini penting karena wajah orang lain selalu menuntut tanggung jawab. Ketika Gubernur melihat wajah para pelaku ekonomi kreatif, terutama orang muda, ia berjumpa dengan harapan yang sedang tumbuh. Harapan itu hadir dalam produk lokal, dalam kerajinan tangan, dalam makanan olahan, dalam kreativitas budaya, dan dalam keberanian orang muda untuk tampil sebagai pelaku ekonomi. Wajah-wajah itu seolah berkata bahwa pembangunan harus memberi ruang bagi mereka.

Di sinilah sukacita muncul. Sukacita masyarakat bukan semata-mata karena bertemu dengan orang nomor satu NTT, melainkan karena mereka merasa dilihat. Dalam kultur masyarakat kita, kehadiran seorang pemimpin dari dekat memiliki makna yang dalam. Orang merasa tidak diabaikan. Usaha mereka tidak dianggap kecil. Produk mereka tidak dipandang remeh. Perjumpaan itu menghadirkan penguatan batin bahwa apa yang mereka kerjakan memiliki nilai.
Tindakan Gubernur yang membeli langsung produk masyarakat juga memiliki makna simbolik. Membeli dalam konteks ini bukan sekadar transaksi ekonomi. Ia adalah tindakan penghargaan. Seorang pemimpin yang membeli produk rakyat sedang menyampaikan pesan bahwa karya masyarakat layak dipercaya, layak dihargai, dan layak diberi tempat. Di titik ini, transaksi berubah menjadi pengakuan, dan pembelian menjadi bentuk dukungan moral terhadap kreativitas masyarakat.
Kunjungan ini juga memperlihatkan bahwa pembangunan NTT tidak cukup hanya dibicarakan dari pusat kekuasaan. Pembangunan harus menemukan wajah konkretnya di desa, komunitas, paroki, kelompok orang muda, dan ruang-ruang ekonomi kecil. Program seperti One Village One Product, One Community One Product, dan NTT Mart hanya akan hidup apabila berakar pada manusia-manusia nyata yang bekerja, mencipta, dan berharap. Tanpa wajah rakyat, program mudah menjadi slogan. Tetapi ketika program bertemu dengan wajah masyarakat, ia menjadi gerakan hidup.
Maka, kunjungan Gubernur NTT ke stand Pameran Ekonomi Kreatif OMK se-Dekenat Mena dapat dibaca sebagai peristiwa filosofis-kultural. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal mengatur, tetapi juga menyapa. Bukan hanya soal memerintah, tetapi juga mendengar. Bukan hanya soal program, tetapi juga perjumpaan. Dalam etika wajah Levinas, pemimpin yang hadir dari dekat sedang menjawab panggilan wajah rakyat. Dan ketika panggilan itu dijawab dengan perhatian, sukacita pun menjadi muaranya.
oleh Yudel Neno










